Profil Bisnis

Sejarah Zoho, Perusahaan Software Raksasa Tanpa Investor

Zoho Corporation adalah perusahaan teknologi multinasional yang berbasis di India. Perusahaan ini didirikan oleh Sridhar Vembu dan Tony Thomas pada tahun 1996.

Zoho hadir di tujuh lokasi dengan kantor pusat global yang terletak di Chennai, Tamil Nadu, India, dan kantor pusat korporasi di luar negeri Austin di Del Valle, Texas. Pemegang saham mayoritas Zoho adalah Radha Vembu, saudari Sridhar Vembu.

Baca juga

Sejarah Zoho

Pada mulanya, Zoho bernama AdventNet, Inc. Nama ini disandang sejak pertama berdiri tahun 1996 hingga 2009 sebelum berganti nama menjadi Zoho.

Sejarah Zoho: Sridhar Vembu sebagai Founder
Sridhar Vembu, founder Zoho

AdventNet sebenarnya dirintis oleh dua saudara Sridhar Vembu, Kumar dan Sekhar Vembu, dan Tony Thomas. Kumar dan Sekhar Vembu menjalankannya dari India, sedangkan Tony Thomas adalah representatif di Amerika. Pada tahun 1997, Tony mengajak Sridhar untuk bergabung sebagai VP Marketing dan Business Development.

Tahun 2001, AdventNet berekspansi ke Jepang. Kemudian pada tahun 2005, AdventNet merilis Zoho CRM, diikuti dengan Projects, Creator, dan Sheet pada 2006.

Tahun 2007, Zoho mulai berekspansi ke sektor collaboration space dengan merilis Zoho Docs dan Zoho Meeting. Lalu pada tahun 2008, AdventNet menambahkan aplikasi invoice dan mail. Bulan Agustus di tahun yang sama, Zoho berhasil mencapai 1 juta pengguna.

Berkat popularitas Zoho Office Suite, tahun 2009, AdventNet resmi berganti nama menjadi Zoho. Menariknya, sampai sekarang Zoho tetap menjadi perusahaan privat dan tidak membuka pintu untuk investor.

Tahun 2017, Zoho merilis Zoho One yang terdiri dari 40+ aplikasi. Terhitung per Oktober 2021, Zoho One telah berkembang menjadi 50 aplikasi.

Bulan Januari 2020, Zoho telah memiliki 50 juta pengguna.

Lokasi Kantor Zoho

Kantor pusat Zoho terletak di Chennai, India. Tahun 2019, Zoho telah memiliki 12 kantor di seluruh dunia. Lalu pada tahun 2021, Zoho sudah beroperasi di 9 negara.

Markas Zoho di Amerika sebelumnya berada di Pleasanton, California, sebelum akhirnya dipindahkan ke Del Valle, Texas pada tahun 2019.

Pada April 2019, Zoho berencana membuka markas baru dengan membeli tanah di luar Austin. Namun pada tahun 2020, Zoho justru membangun kebun organik sebagai sumber makanan sekaligus tempat rekreasi untuk karyawan selama pandemi Covid-19.

Kantor Pusat Zoho di Amerika Serikat

Makanan yang tak terpakai mereka bagikan ke Texas Central Food Bank dan organisasi lainnya.

Kampus riset dan pengembangan Zoho berada di Estancia IT Park, Chennai. Zoho juga mempunyai kantor di Tenkasi, tempat mereka membuat dan meluncurkan Zoho Desk.

Zoho juga beroperasi di Cina serta mempunyai kantor di Jepang dan Singapura. Selain kantor pusat Chennai dimana sebagian besar operasi dijalankan, Zoho juga punya kantor lain di Renigunta, Andhra Pradesh yang beroperasi sejak 2018.

Pasca Covid-19, Zoho berencana membuka cabang baru di kawasan pedesaan di Tamil Nadu selatan, meliputi Madurai dan Theni. Akhir tahun 2021, Zoho mengumumkan pembukaan cabang baru mereka di New Braunfels, Texas.

Prinsip & Nilai Zoho

Salah satu hal menarik tentang Zoho adalah kultur perusahaan yang cukup unik. Zoho memang mengejar keuntungan sebagaimana perusahaan swasta pada umumnya.

Namun di atas kalkulasi laba-rugi, Zoho mempunyai banyak hal yang lebih menjadi prioritas mereka, bahkan jika hal tersebut bertentangan dengan kepentingan bisnis.

Software Serius, Perusahaan Ramah

Kata ‘serius’ dan ‘ramah’ biasanya sulit beriringan. Namun, Zoho berusaha menerapkannya sebagai salah satu nilai penting di perusahaan.

“Perangkat lunak adalah keahlian dan passion kami”, begitu bunyi kalimat pertama di About Us Zoho.

Kalimat di atas menggambarkan bagaimana Zoho memposisikan passion sebagai fondasi dasar operasi mereka di bidang software development. Kemudian, kalimat tersebut dilanjutkan dengan:

“Kami membuat perangkat lunak yang indah untuk memecahkan masalah bisnis”.

Dari sini terlihat jelas bahwa Zoho memposisikan pekerjaan mereka sebagai passion, hobi, dan sesuatu yang indah dan menyenangkan, di atas keinginan mereka (dan siapa saja) untuk menghasilkan uang.

Namun ada satu hal lain yang lebih penting dari sekedar menjalani passion: budaya perusahaan dan orang-orang di dalamnya.

Zoho sadar bahwa para karyawannya telah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk menguasai kemampuan software development, dan Zoho sangat menghargai hal tersebut dengan menyebut software buatan mereka sebagai sebuah karya seni.

Headline pertama Zoho ditutup dengan dua kata kunci: komitmen dan pengabdian, dari Zoho untuk seluruh penggunanya.

Fokus ke Hal-hal Penting

Zoho memiliki prioritas yang kreatif dalam hal membelanjakan uang. Bagi Zoho, yang harus menjadi prioritas alokasi anggaran mereka adalah pengembangan produk dan dukungan pengguna. Bukan pemasaran dan penjualan.

Zoho melihat sebuah paradoks ketika pengguna memberikan uang ke perusahaan, lalu perusahaan menggunakan uang tersebut untuk memasarkan produk ke pengguna yang sama. Zoho seolah-olah mewakili suara pengguna bahwa “kami membayarmu untuk melayani kami, bukan terus-menerus menawarkan ini-itu”.

Dengan mempertahankan biaya pemasaran yang rendah, Zoho pun mampu memberikan produk berkualitas dengan harga terjangkau.

Selain itu, Zoho juga melakukan pemasaran secara ‘halus’, tanpa sedikit pun berupaya menekan prospek untuk membeli. Bahkan, Zoho menjanjikan hal tersebut secara gamblang, “Anda tidak akan menemukan kami berusaha untuk menjual secara berlebihan kepada Anda, atau membeli kesetiaan Anda dengan kontrak tahunan”.

Walaupun strategi tersebut agak di luar kebiasaan bisnis, namun Zoho membuktikan bahwa cara tersebut mampu membuahkan hasil lewat pertumbuhan yang secara teratur melampaui para pesaing mereka.

Perusahaan Privat dengan Visi Publik

Hal menarik lain yang Zoho lakukan adalah menutup pintu dari investor. Ketika banyak perusahaan berlomba-lomba untuk go public, Zoho justru dengan sengaja mempertahankan statusnya sebagai perusahaan privat.

Tapi tentu saja Zoho punya alasan kuat di baliknya: “Ini membuat kami tetap mandiri dan terikat hanya pada pelanggan”.

Mengingat prinsip dan nilai di kultur Zoho yang cukup unik, mungkin cara ini memang yang terbaik untuk tetap mempertahankan karakter mereka sebagai Zoho tanpa intervensi pihak luar.

Walaupun perusahaan privat, Zoho membuktikan bahwa mereka mampu bersaing dengan perusahaan publik. “Kami privat, tapi jauh dari kecil. Dengan hampir 10 ribu karyawan di seluruh dunia, gaya berpikir non-konvensional kami sepertinya telah membuahkan hasil”.

Simak kisah Zoho dari sudut pandang Dr. Indrawan Nugroho berikut ini.

Riset Produk dan Pengembangan Karyawan

Di bidang Research and Development, Zoho mengutamakan pengembangan sumber daya manusia lewat sebuah program bertajuk Zoho Schools of Learning. Ini merupakan program komprehensif untuk merekrut siswa sekolah menengah dan melatih mereka.

Sejarah Zoho: Zoho Schools of Learning
Zoho Schools of Learning

Menariknya, lebih dari 15% engineer Zoho berasal dari program ini. Dampak positifnya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tapi juga masyarakat yang berada di sekitar Zoho.

Zoho sangat menghargai kerja keras karyawannya. Abdul Alim, seorang staf keamanan Zoho, mulai belajar membuat aplikasi dari seniornya setelah 12 jam bekerja. Hal ini dilakukan Alim selama 8 bulan, sampai akhirnya dia berhasil membuat aplikasi pertamanya.

Kemudian, Alim melakukan interview sebagai software engineer, tetapi dia tidak percaya diri karena tidak memiliki gelar sarjana. Pegawai yang mewawancarai Alim mengatakan bahwa Zoho tidak melihat gelar, tetapi lebih mementingkan karakter dan kemampuannya.

Sejarah Zoho: kisah Abdul Alim dari staf keamanan menjadi software developer
Abdul Alim, dari staf keamanan menjadi software developer

Bebas dari Mata-mata

Iklan di dalam aplikasi adalah hal yang lumrah, tapi Zoho menentangnya. Bagi Zoho, privasi pengguna adalah tanggung jawab yang harus mereka jaga dengan sungguh-sungguh.

Zoho berkomitmen untuk tidak menjual iklan di dalam produk mereka, bahkan di versi gratis sekalipun. “Kami tidak tertarik untuk melacak klik Anda dan memberi makan monster pemasaran. Kami akan menghasilkan uang dengan cara tradisional, memberikan Anda perangkat lunak berharga yang dengan senang hati Anda bayar”.

Zoho percaya bahwa mereka lebih unggul dalam hal kepatuhan terhadap regulasi privasi. Mereka tidak perlu diberitahu seperti apa bisnis yang baik seharusnya dan bagaimana sebaiknya mengelola data pengguna. Zoho melakukannya dengan kesadaran penuh tanpa harus diminta.

Alasannya sederhana: Zoho menganggap penting privasi perusahaan mereka, dan pelanggan pasti juga berpikiran sama.

Zoho, Perusahaan yang ‘Baik Hati’

Di saat dunia bisnis kian kentara dengan orientasi kapital, hasrat memonopoli, dan diselingi dengan praktek-praktek ‘nakal’, Zoho justru tampil sebagai perusahaan yang baik hati, hemat, dan bisa dipercaya.

Mungkin image inilah yang menempatkan Zoho di posisi strategis di luar barisan kursi kompetisi. Lebih dari sekedar perusahaan profesional, Zoho adalah perusahaan yang membuat pengguna merasa tenang dan aman.

Nilai inilah yang sulit didapatkan dari perusahaan lain, dan Zoho berhasil mengambil kesempatan ini dengan nyali: tampil beda, percaya diri, dan menolak investor mengambil alih kemudi.

Profil dan Sejarah Perusahaan Lainnya

Artikel terkait Investor

Published by Ahmat Roihan

Experienced SEO content writer & copywriter, digital marketing enthusiast, tech savvy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.