Bisnis, Bisnis Umum

7+ Strategi Social Selling di LinkedIn

LinkedIn adalah platform media sosial yang ideal untuk berbisnis. Ide awal LinkedIn sendiri berfokus pada dunia bisnis dan pekerjaan, sebuah ruang sempurna untuk pemasaran Business to Business (B2B).

Berkaitan dengan social selling, LinkedIn dapat menjadi pilihan utama Anda karena di sana lah orang melakukan interaksi bisnis secara online. Lain halnya dengan platform media sosial lain yang lebih identik dengan komunikasi dan hiburan.

Sebagai platform profesional, LinkedIn menawarkan banyak fitur yang dapat mendukung aktivitas social selling. Bahkan Social Selling Index (SSI) pun pertama kali dicetuskan oleh LinkedIn.

Jika Anda belum mengerti apa itu social selling, Anda dapat memulai dari sini. Karena di artikel ini, kita akan fokus membahas teknik social selling di LinkedIn secara rinci dan spesifik.

Cara Menjalankan Social Selling di LinkedIn

Dengan potensi LinkedIn yang begitu besar, sudah semestinya Anda mengambil keuntungan dari platform ini. Salah satunya dengan strategi social selling dalam 9 langkah berikut:

1. Lengkapi Profil LinkedIn Anda

Faktor pertama sekaligus paling penting dalam LinkedIn social selling adalah kelengkapan profil. Sebuah data menunjukkan bahwa 50% pembeli menghindari sales profesional hanya karena profil LinkedIn belum lengkap.

Ini merupakan bukti betapa pentingnya profil LinkedIn di mata prospek. Jadi, langkah pertama yang harus Anda ambil untuk menjalankan social selling di LinkedIn adalah melengkapi profil Anda.

2. Gunakan Foto Profil Profesional

Sebenarnya, foto profil juga merupakan bagian dari kelengkapan profil. Kami sengaja membahasnya secara terpisah karena foto memiliki pengaruh yang cukup signifikan.

LinkedIn adalah media sosial profesional. Artinya, semua bagian profil Anda juga harus terlihat profesional, terutama foto.

Jika Anda menjalankan akun brand, tampilkan logo brand Anda secara jelas di foto profil.

Jika Anda menawarkan jasa profesional menggunakan akun individu, pilihlah foto yang terlihat profesional, namun tidak terlalu formal. Banyak yang menggunakan pas foto dengan background biru atau merah sebagai foto profil LinkedIn.

Hal ini tidaklah disarankan. Akan lebih baik jika Anda menggunakan foto semi formal, namun tetap terlihat profesional. Anda bisa melihat foto-foto influencer LinkedIn untuk melihat jenis foto seperti apa yang ideal untuk social selling di platform tersebut.

3. Bangun Profil Berorientasi Konsumen

Jika tujuan Anda adalah social selling, maka Anda perlu membangun profil LinkedIn yang berorientasi konsumen. Artinya, setiap aspek profil Anda harus mengutamakan selera dan kebutuhan mereka.

Ada 1 prinsip umum dalam pemasaran, yaitu:

“Konsumen tidak peduli siapa Anda atau apa yang Anda jual. Mereka hanya peduli pada manfaat dan solusi yang bisa Anda berikan.”

Itulah yang dimaksud dengan orientasi konsumen. Buatlah profil LinkedIn Anda tampak menarik dan meyakinkan di mata prospek. Tekan keinginan ego Anda untuk menonjolkan diri dan berikan lebih banyak perhatian pada profesionalisme dan problem solving.

4. Minta Rekomendasi Pengguna Lain

Di LinkedIn, praktik rekomendasi antar pengguna adalah hal yang biasa. Anda bisa merekomendasikan orang atau brand lain, begitu juga sebaliknya.

Cara ini terbukti sangat efektif. Sampai saat ini, teknik pemasaran terkuat adalah testimoni pelanggan dari mulut ke mulut. Di LinkedIn, kita menyebutnya dengan rekomendasi.

Jika seseorang merekomendasikan brand Anda dengan berbagai pujian dan komentar positif, kemungkinan untuk menjangkau prospek baru pun terbuka lebar.

Alasannya karena orang-orang cenderung lebih mempercayai perkataan orang yang mereka kenal dengan baik, dan cenderung mengabaikan apapun yang dikatakan sebuah brand karena (biasanya) bermuatan iklan.

Jadi, setelah Anda melengkapi profil, cobalah meminta pelanggan atau klien Anda untuk memberikan rekomendasi. Satu rekomendasi saja bisa membuka pintu ke ratusan prospek baru. Bayangkan jika Anda mampu mendapatkan puluhan rekomendasi setiap bulan!

5. Rajin Post Konten Custom

Di media sosial mana pun dan apa pun tujuannya, posting konten tetap menjadi aktivitas utama. Hal yang sama juga harus Anda lakukan dalam social selling di LinkedIn.

Bedanya, LinkedIn lebih menekankan pada konten custom, yaitu konten yang dibuat seunik dan serelevan mungkin dengan profil prospek.

Anda bisa mengumpulkan ide konten custom melalui riset kompetitor, mengamati komentar, melakukan survey, maupun berbincang via pesan dengan prospek Anda. Usahakan untuk menggali ide yang belum banyak dijadikan konten agar menjadi viral.

Setelah mendapatkan ide, ubah ide tersebut menjadi konten yang informatif, bermanfaat, dan selaras dengan tone of voice Anda. Lakukan hal yang sama secara konsisten dengan interval tertentu sesuai kebutuhan dan kemampuan.

6. Bangun Koneksi Seluas Mungkin

Kalau di Facebook ada Friends, di Twitter ada Follow, dan di YouTube ada Subscribe, di LinkedIn kita menyebutnya sebagai Connect.

Membangun koneksi adalah salah satu misi utama di LinkedIn, terutama dalam menjalankan social selling. Usahakan untuk menjalin koneksi dengan prospek potensial serta akun-akun lain yang sekiranya dapat membantu pemasaran Anda.

Selain prospek, Anda juga bisa terhubung dengan profesional di bidang industri Anda, influencer, jajaran manajerial dan eksekutif perusahaan, dan masih banyak lagi.

Semakin luas jaringan koneksi Anda, semakin besar peluang konversi yang bisa Anda buat melalui social selling di LinkedIn.

7. Lakukan Warm Referrals

Selain rekomendasi, Anda juga bisa saling berbagi referral dengan koneksi Anda. Di LinkedIn, kita menamainya warm referrals. Ini adalah cara pengguna LinkedIn memperluas koneksi dengan saling memperkenalkan.

Warm referrals bertujuan untuk menambah dan memperluas koneksi dengan memanfaatkan jaringan koneksi pengguna lain.

Teknisnya, Anda meminta seorang koneksi Anda untuk memperkenalkan Anda pada koneksinya. Sebagai gantinya, Anda juga melakukan hal yang sama terhadapnya.

Data LinkedIn di bawah ini membuktikan bahwa warm referral memang efektif untuk pemasaran:

  • Pembeli 5x lebih mungkin untuk terlibat dengan Anda melalui hubungan mutual (warm referral).
  • 84% pengambil keputusan B2B memulai pembelian dari rujukan (referral).

8. Berdialog Secara Natural

Ingat, fokus utama social selling adalah menjalin interaksi. Dalam berinteraksi, jangan sampai Anda terlihat seperti sedang menjual. Jangan ada muatan pemasaran sekecil apapun.

Buatlah pesan Anda senatural mungkin layaknya sedang berbincang dengan seorang sahabat. Ajak prospek Anda untuk berdiskusi mengenai bidang bisnis dan permasalahan yang mereka hadapi.

Jika Anda berhasil membangun dan mempertahankan dialog yang natural, informatif, dan profesional, pada langkah selanjutnya prospek akan dengan sendirinya membeli produk Anda.

9. Alihkan ke Dialog Offline

Setelah berinteraksi via online dengan prospek, pertahankan dan tingkatkan level komunikasi tersebut sampai Anda merasa berhak untuk mengajak prospek berdialog secara offline.

Pada fase offline inilah Anda dapat menjalin interaksi yang lebih potensial. Hubungan personal dengan prospek berpeluang besar untuk membuahkan keuntungan.

Dengan sedikit kesabaran dan ‘sentilan’ pemasaran, prospek LinkedIn Anda akan terkonversi menjadi konsumen, pelanggan, sampai akhirnya menjadi promotor gratis.

LinkedIn Social Selling: Pemasaran Masa Depan

Dari sekian banyak teknik digital marketing, social selling adalah yang paling relevan dengan perilaku konsumen era ini. Anda tidak bisa lagi mengandalkan iklan atau metode hard-selling lainnya untuk berjualan.

Alih-alih membanjiri laman media sosisal dengan konten promosi, akan lebih efektif jika Anda menjalin interaksi yang natural dengan prospek. Cara ini terbukti ampuh dan diyakini akan semakin populer di masa mendatang.

Jika Anda ingin memulai social selling, mulailah dari LinkedIn dan mulailah sekarang!

Published by Ahmat Roihan

Experienced SEO content writer & copywriter, digital marketing enthusiast, tech savvy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.