Data

Business Analytics atau Data Science, Mana yang Saya Pilih untuk Melanjutkan Studi?

Di tengah era “data is the new oil”, banyak pihak yang semakin sadar akan pentingnya pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan termasuk sektor industri dan pemerintah. Oleh karena itu kebutuhan akan talenta digital yang mampu menggali, mengolah, kemudian menyajikan data dan informasi pun semakin meningkat. Melihat peluang ini, sektor akademis yang sejatinya sudah lama berkecimpung dalam hal tersebut menawarkan berbagai program studi yang dikemas dengan beraneka ragam spesialisasi bidang.

Pada artikel ini saya akan berbagi tips yang dapat dijadikan panduan untuk Anda dalam memilih dua program studi yang paling umum ditawarkan, yaitu Master of Business Analytics dan Master of Data Science. Mari kita simak.

5 Tips Memilih Business Analytics atau Data Science

1. Kenali Perbedaannya

Program studi Business Analytics berfokus untuk mempersiapkan lulusan yang mampu menyelesaikan masalah umum yang terjadi di dunia bisnis. Jadi, di jurusan sini Anda pasti akan dibekali dengan pengetahuan tentang administrasi bisnis dan penggunaan analitik di bidang marketing, finance, operation, dan fungsi bisnis lainnya. Sementara itu, program studi Data Science fokus pada penguatan hard skill di bidang data science. Sehingga mata kuliah programming, statistik, matematika, dan machine learning, yang merupakan fondasi ilmu seorang data scientist, menjadi mata kuliah wajib di jurusan ini.

Untuk sebagian orang yang ingin meneruskan studi, durasi kuliah mungkin menjadi salah satu faktor penting untuk dipertimbangkan. Bagi Anda yang mengutamakan kuliah singkat untuk menghemat dana atau agar lebih cepat mendongkrak karir, rata-rata program Business Analytics di berbagai kampus luar negeri dapat diselesaikan dalam 12 sampai 13 bulan, sedangkan gelar data sains harus dicapai dalam 2 tahun.

Saya sendiri memiliki background IT dan mungkin karena sudah terlalu lama mendalami dunia teknis, melanjutkan studi yang ada hubungannya dengan dunia bisnis menjadi lebih menarik. Selain itu, karena sudah bekerja dan harus meninggalkan keluarga untuk melanjutkan studi, saya butuh program studi yang dapat diselesaikan dengan cepat.

2. Kenali Tujuan / Outcome Program Studi

Lulusan BA biasanya akan berkarir sebagai data analyst. Sedangkan data science sesuai dengan namanya, menjadi data scientist.

Untuk peluang pekerjaan keduanya keduanya sama-sama besar. Bedanya data analyst bisa lebih luas (menempati bermacam posisi), sedangkan data scientist spesifik. Secara gaji, berdasarkan informasi dari rekan-rekan profesional saya, pendapatan data scientist bisa jauh lebih besar. Di sini Anda harus pikirkan career track yang ingin ditempuh, jika ingin masuk ke posisi manajerial dan strategis, kuliah di BA lebih tepat.

Pikirkan juga perusahaan tempat kamu bekerja, kulturnya seperti apa.

Pada saat saya dihadapkan dengan pilihan ini juga berkonsultasi dengan seorang data scientist di kantor pajak Australia yang sedang bertugas di Indonesia, dan Beliau menyarankan untuk memilih Business Analytics, karena lebih cocok bagi saya kalau ingin menjadi pimpinan.

Namun, bukan berarti track DS tidak bisa ke posisi manajerial dan strategis di perusahaan. Saya punya teman yg sebelumnya berkarir di perusahaan startup sebagai Head Data scientist, bisa pindah ke salah satu bank BUMN sebagai salah satu VP-nya.

3. Kuliah di Kampus Nasional atau Luar Negeri

Kuliah di luar negeri tentu saja menyenangkan, jika Anda tidak memiliki modal seperti saya, pastinya perlu mencari beasiswa dulu. Pada saat saya ingin melanjutkan studi S2, belum ada program studi di dalam negeri, jadinya mencari di luar, dan alhamdulillah dapat beasiswa juga.

Bagi yang sudah berkeluarga atau sudah punya pekerjaan yang susah ditinggalkan, saat ini sudah ada program studi yang menawarkan prodi BA, tapi untuk data scientist masih langka.

4. Pilih yang Disukai – Do What You Love

Sebenarnya ini pepatah klasik dari semua hal, intinya fokus ke hal yang Anda sukai, karena keduanya sama-sama membutuhkan usaha yang besar. Jika memaksakan diri mengerjakan hal yang tidak disukai, berat untuk persevered dan persistence.

5. Kenali Keunggulan Program Studi di Setiap Kampus

Jika sudah menentukan program studi yang ingin diambil, saatnya memilih kampus yang tepat. Walaupun program studinya sama, beda kampus juga bisa memiliki perbedaan. Pada saat itu, saya ingin memilih BA antara universitas di Singapura dan Australia. Secara peringkat THE, yang di Singapura lebih tinggi. Namun, di Australia memiliki penawaran yang menarik tentang soft skill (coaching career) dan ada bagian pengembangan soft skill. Ini penting untuk mendukung karir, karena tidak semua jenjang karir fokus pada kemampuan hard skill, apalagi untuk BA.


Sekian 5 tips untuk memilih program studi Business Analytics atau Data Scientist. Semoga bermanfaat untuk rekan-rekan pembaca, terutama untuk Anda yang sedang bingung memilih antara kedua jurusan tersebut.

Published by Rosalina Paramita

Seorang penggiat data. Berpengalaman dalam manajemen data, data warehouse, dan data analytics sejak tahun 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published.