Teknovidia – Mencari laptop pelajar terbaik di 2024 sering berujung pada dua kandidat utama: Asus VivoBook atau MacBook Air. Keduanya sama-sama ringan, awet baterai, dan banyak direkomendasikan. Tapi pilihan ideal sangat tergantung pada gaya belajar, aplikasi kuliah, dan budget. Artikel ini akan mengupas tuntas perbandingan performa, baterai, layar, port, ekosistem, hingga nilai jual kembali—lengkap dengan contoh nyata dan data ringkas—agar Anda bisa memutuskan dengan percaya diri. Penasaran laptop mana yang lebih cocok untuk tugas harian, desain ringan, coding, atau content creation? Simak sampai akhir.

Kebingungan Paling Umum: Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Pelajar dari Laptop?
Masalah utama banyak pelajar saat memilih laptop 2024 adalah “overlap” spesifikasi. Di kertas, Asus VivoBook dan MacBook Air tampak mirip: sama-sama tipis, ringan, baterai panjang, dan cukup bertenaga. Namun, kebutuhan pelajar tidak seragam. Ada yang fokus menulis dan riset (butuh kenyamanan keyboard dan daya tahan baterai maksimum), ada yang sering presentasi (butuh layar cerah dan speaker jernih), ada juga yang perlu menjalankan software tertentu seperti SPSS, AutoCAD ringan, MATLAB, atau editing video untuk tugas kreatif. Itulah kenapa satu laptop bisa terasa “pas banget” bagi satu orang, tapi “kurang sreg” bagi yang lain.
Di ekosistem Apple, MacBook Air (M2/M3) dikenal sangat efisien, nyaris selalu senyap tanpa kipas, dengan performa harian stabil dan layar cerah. Ini menarik bagi pelajar yang mengutamakan fokus, mobilitas, dan pengalaman yang konsisten. Sementara itu, keluarga Asus VivoBook menawarkan fleksibilitas: banyak varian prosesor (Intel Core generasi 12–14 atau AMD Ryzen 5000–7000), opsi RAM/storage beragam, serta konektivitas yang cenderung lengkap (port USB-A, HDMI, kadang ada slot microSD). Artinya, Anda bisa menyesuaikan spek dengan budget lebih leluasa.
Hook praktisnya begini: jika Anda sering pakai software yang optimal di macOS (misalnya iWork, Final Cut Pro, atau ekosistem kreatif Apple), MacBook Air memberi pengalaman mulus. Tapi kalau jurusan Anda mengandalkan aplikasi Windows spesifik (beberapa tool statistik, akuntansi, teknik tertentu), VivoBook di Windows terasa “plug and play” dan minim kompromi. Masalah keliru memilih biasanya terjadi saat kebutuhan aplikasi tidak dipetakan sejak awal. Kuncinya adalah menulis 5 hal yang paling sering Anda lakukan (mengetik, spreadsheet, coding, desain, meeting online, editing) beserta software-nya. Dari daftar itu, pilihan biasanya mengerucut cepat.
Performa Nyata & Baterai: M3 vs Ryzen/Intel di VivoBook, Mana Lebih “Ngebut” untuk Kuliah?
Dalam tugas harian pelajar—browsing puluhan tab, Google Docs/Office, PDF berat, Zoom/Meet, hingga multitasking ringan—MacBook Air M2/M3 dan VivoBook berbasis Intel Core i5 U-series atau Ryzen 5 U-series pada dasarnya sama-sama sangat memadai. Keunggulan MacBook Air ada pada efisiensi: chip Apple Silicon dirancang dengan arsitektur yang hemat daya sehingga performa konsisten sambil menjaga suhu dan baterai. Banyak pengguna melaporkan 10–15 jam pemakaian produktif (tanpa game berat), sedangkan beberapa VivoBook tipikal berada di kisaran 7–11 jam tergantung kapasitas baterai, prosesor, serta pola kerja.
Untuk skenario semi-berat seperti pengolahan data di Excel besar, kompilasi kode tingkat menengah, atau edit video 1080p dengan cut/trim dan color-light, MacBook Air M2/M3 biasanya unggul pada efisiensi dan stabilitas performa berkat memori terpadu (unified memory) dan akselerasi hardware media modern. Namun, beberapa varian VivoBook dengan prosesor 28W atau opsi RAM lebih besar dapat menyamai bahkan melampaui pada workload spesifik, khususnya yang teroptimasi untuk Windows. Perlu dicatat, MacBook Air tidak berkipas; performa dijaga pintar agar tetap senyap. Sementara VivoBook dengan kipas bisa mempertahankan frekuensi turbo lebih lama, tetapi berpotensi terdengar saat digeber.
Kompatibilitas aplikasi juga krusial. Jika tugas Anda banyak di MATLAB, AutoCAD versi Windows, atau software kampus yang hanya disediakan installer .exe, VivoBook memberi kenyamanan native. Mac tetap bisa menjalankan Windows melalui virtualisasi seperti Parallels Desktop, tetapi ada biaya tambahan dan kompromi kinerja untuk workload tertentu. Sebaliknya, bila Anda aktif di ekosistem kreatif Apple (Final Cut Pro, Logic Pro) atau cukup dengan tool lintas platform (Google Workspace, Notion, DaVinci Resolve, Affinity), MacBook Air menghadirkan workflow yang sangat lincah. Intinya, untuk “performa kuliah”, keduanya kencang; pemenangnya ditentukan oleh aplikasi yang Anda pakai setiap hari dan seberapa penting baterai panjang tanpa charger.
Desain, Layar, Port, dan Pengalaman Harian: Mobilitas Kampus Itu Segalanya
Portabilitas bukan sekadar berat; ini tentang rasa nyaman membawa laptop dari kelas ke kelas, menyalakan cepat, mengetik lama, serta layar yang enak di mata. MacBook Air 13 inci bobotnya sekitar 1,24 kg (15 inci ~1,51 kg), sangat tipis, dan build quality solid. Layar Liquid Retina dengan kecerahan hingga 500 nit dan color gamut luas membuat teks tajam serta warna konsisten. Speaker dan mikrofon-nya pun di atas rata-rata, sehingga rapat online terdengar jelas dan presentasi video terasa lebih hidup. Trackpad besar dan presisi jadi nilai tambah bagi pelajar yang sering navigasi cepat tanpa mouse.
Asus VivoBook hadir dalam banyak varian 14–15 inci, bobot tipikal 1,4–1,6 kg dengan ketebalan yang tetap ramah tas. Layar umumnya 250–300 nit; beberapa model menawarkan panel OLED dengan warna memukau dan kontras tinggi—sangat menarik untuk desain ringan dan konsumsi konten. Keyboard VivoBook biasanya nyaman untuk mengetik lama, dan yang menyenangkan: port lengkap. Banyak model punya USB-A, USB-C, HDMI full-size, bahkan microSD. Ini praktis untuk presentasi mendadak di kelas tanpa dongle tambahan. Bagi pelajar yang sering memindah file dari kamera/HP dan menghubungkan proyektor kampus, kelegaan port ini terasa nyata.
Dari sisi pengalaman harian, MacBook Air menonjol pada “it just works”: nyala instan, ekosistem iPhone/iPad tersinkronisasi, AirDrop file cepat, dan masa siaga yang lama. VivoBook memberikan kebebasan kustomisasi Windows, kemudahan instalasi berbagai aplikasi, dan upgrade tertentu pada model tertentu (mis. storage). Untuk kenyamanan mata, pertimbangkan: jika Anda sering belajar di ruang terang atau outdoor, kecerahan 500 nit di Mac sangat membantu. Namun, jika Anda penggemar warna pekat dan sering nonton/ngerjain desain di malam hari, layar OLED pada beberapa VivoBook terasa “wah”. Pilih yang paling sesuai dengan kebiasaan belajar Anda.
Harga, Ekosistem, dan Nilai Jangka Panjang: Mana Paling Masuk Akal untuk Pelajar?
Faktor penentu terakhir sering kali adalah biaya total kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO): harga beli, masa pakai, biaya software, dan nilai jual kembali. Di Indonesia pada 2024, MacBook Air M2 baru biasanya berada di kisaran ~Rp16–19 jutaan (tergantung promo), sedangkan MacBook Air M3 13 inci ~Rp19–22 jutaan, dan 15 inci bisa ~Rp25–27 jutaan. Asus VivoBook punya rentang luas: model entry dengan Ryzen 5/Intel i5 U-series kerap berada di kisaran ~Rp8–12 jutaan, sementara varian OLED/VRAM lebih lega atau prosesor kelas atas dapat menyentuh ~Rp13–17 jutaan. Harga bisa berubah mengikuti promo dan stok, jadi cek ulang di toko resmi.
Pertimbangan ekosistem: pengguna iPhone cenderung mendapat banyak manfaat di Mac (Notes, Messages, iCloud, Handoff, AirDrop), sementara ekosistem Windows memudahkan akses tool kampus umum, aplikasi akuntansi, dan game ringan saat senggang. Soal software, banyak kampus menyediakan Microsoft 365 Education gratis atau diskon, dan Apple punya Apple Education pricing untuk perangkat dan app pro tertentu—pastikan Anda memanfaatkan.
Nilai jual kembali juga penting. MacBook Air historisnya memegang harga bekas cukup baik, terutama bila kondisi mulus dan baterai sehat. VivoBook, meski depresiasi umumnya lebih cepat, memberi keuntungan awal berupa harga beli lebih terjangkau dan fleksibilitas port. Jika dana terbatas dan Anda butuh laptop layak untuk 3–4 tahun ke depan, VivoBook spek seimbang (RAM 16 GB, SSD 512 GB) adalah sweet spot. Jika Anda memprioritaskan umur pakai panjang, stabilitas, dan integrasi iOS/iPadOS—MacBook Air layak jadi investasi.
Perbandingan ringkas di bawah dapat membantu mengerucutkan pilihan (estimasi umum, bisa berbeda per model):
| Aspek | MacBook Air (M2/M3, 13″) | Asus VivoBook (contoh i5/Ryzen 5 U-series) |
|---|---|---|
| Harga baru (ID) | ± Rp16–22 jt | ± Rp8–14 jt (umum), hingga ± Rp17 jt (varian tinggi) |
| Bobot | ± 1,24 kg | ± 1,4–1,6 kg |
| Baterai (pemakaian produktif) | ± 10–15 jam | ± 7–11 jam |
| Layar | IPS cerah 500 nit, warna akurat | IPS 250–300 nit; beberapa model OLED kontras tinggi |
| Port | USB-C/Thunderbolt, audio; perlu dongle untuk HDMI/USB-A | Biasanya USB-A, USB-C, HDMI, audio, kadang microSD |
| Performa harian | Responsif, senyap (tanpa kipas) | Kencang; kipas bisa terdengar saat beban berat |
| Kompatibilitas app | Optimal ekosistem Apple; Windows via virtualisasi | Native Windows; kompatibel luas software kampus |
| Nilai jual kembali | Umumnya kuat | Variatif, cenderung lebih cepat turun |
| Ekosistem | iPhone/iPad sangat sinkron | Fleksibel, mudah integrasi perangkat beragam |
Rekomendasi cepat: jika fokus Anda penulisan, riset, presentasi, rapat online, dan sesekali edit video ringan—MacBook Air unggul pada konsistensi, baterai, dan layar. Jika Anda sering butuh port lengkap, aplikasi Windows spesifik, atau ingin opsi harga lebih rendah—VivoBook memberi value tinggi. Untuk jurusan desain yang butuh akurasi warna, pertimbangkan MacBook Air (warna konsisten, layar cerah) atau VivoBook OLED (warna “nendang” dengan kontras sangat tinggi). Saat ragu, buat daftar aplikasi wajib serta lingkungan belajar (indoor/outdoor) untuk memetakan prioritas.
Tanya Jawab (Q & A)
Q1: Apakah MacBook Air bisa menjalankan aplikasi Windows?
A: Bisa lewat virtualisasi seperti Parallels Desktop. Namun, ada biaya lisensi dan potensi penurunan kinerja untuk aplikasi berat. Jika Anda sering memakai software Windows spesifik, VivoBook lebih praktis.
Q2: VivoBook dengan layar OLED cocok untuk desain?
A: Sangat menarik untuk konten visual; warna dan kontras impresif. Namun perhatikan brightness puncak dan potensi burn-in jangka panjang (meski makin minim pada generasi baru). Untuk warna konsisten dan cerah di ruang terang, layar MacBook Air juga sangat andal.
Q3: Berapa RAM ideal untuk pelajar pada 2024?
A: 16 GB adalah titik aman agar multitasking lancar 3–4 tahun ke depan, baik di MacBook Air maupun VivoBook. Untuk tugas ringan banget, 8 GB masih bisa, tapi ada risiko cepat terasa sempit.
Q4: Mana yang lebih baik untuk editing video kelas menengah?
A: Untuk 1080p dan social content, MacBook Air M2/M3 sangat efisien berkat akselerasi media. Di Windows, pilih VivoBook dengan prosesor terbaru, RAM 16 GB, dan SSD cepat; gunakan tool yang teroptimasi seperti DaVinci Resolve atau Adobe yang up-to-date.
Kesimpulan Panjang (Rangkuman, Aksi, dan Motivasi)
Intinya, tidak ada “satu jawaban untuk semua” antara Asus VivoBook dan MacBook Air sebagai laptop pelajar terbaik 2024—yang ada adalah “pas untuk kebutuhanmu”. Jika Anda mengutamakan masa pakai baterai panjang, pengalaman yang sangat mulus, integrasi iPhone/iPad, serta stabilitas performa untuk tugas kuliah harian hingga kreatif ringan, MacBook Air M2/M3 adalah pilihan solid dan tahan lama. Layar cerah, build kualitas tinggi, serta nilai jual kembali kuat menjadikannya investasi yang aman, terutama bila Anda sering berpindah kelas atau belajar di ruang terang.
Di sisi lain, jika anggaran ketat namun Anda ingin performa kompeten, port lengkap tanpa dongle, dan kompatibilitas luas dengan software kampus berbasis Windows, VivoBook adalah juara value. Rentang model yang luas memudahkan Anda memilih kombinasi RAM/SSD sesuai kebutuhan. Untuk Anda yang doyan visual “nendang”, VivoBook OLED memberikan pengalaman menonton dan desain yang sangat menyenangkan, khususnya di ruangan minim cahaya.
Apa langkah praktis berikutnya? Buat daftar 5 aktivitas kuliah utama Anda beserta software wajibnya. Tentukan lingkungan belajar dominan (indoor terang/outdoor/malam hari), lalu tetapkan prioritas: baterai, layar, port, atau harga. Setelah itu, bandingkan 2–3 model spesifik MacBook Air dan VivoBook dengan RAM minimal 16 GB dan SSD 512 GB untuk masa pakai lebih panjang. Jika memungkinkan, kunjungi toko untuk mencoba keyboard, trackpad, dan kecerahan layar langsung—rasa nyaman saat dipakai berjam-jam itu krusial. Jangan lupa manfaatkan harga pelajar (Apple Education) atau paket kampus (Microsoft 365 Education) agar biaya total lebih hemat.
Pada akhirnya, laptop terbaik adalah yang membuat Anda konsisten produktif tanpa drama. Entah Anda memilih MacBook Air yang elegan dan efisien atau VivoBook yang fleksibel dan terjangkau, pastikan keputusan didasarkan pada cara Anda belajar—bukan sekadar spesifikasi di brosur. Siap membuat keputusan yang bikin kuliah makin lancar? Mulailah dengan menulis kebutuhan Anda hari ini, bandingkan dua kandidat teratas besok, dan putuskan dalam seminggu. Semakin cepat Anda memilih, semakin cepat pula mimpi Anda dikejar. Pertanyaan ringan: aplikasi apa yang paling sering Anda pakai untuk kuliah—dan apakah laptop pilihan Anda mendukungnya dengan sempurna?
Outbound link bermanfaat: Asus VivoBook (situs resmi), MacBook Air (situs resmi), Apple Education Pricing, Microsoft 365 Education, Parallels Desktop, DaVinci Resolve.
Sumber: Spesifikasi resmi Apple MacBook Air dan Asus VivoBook, dokumentasi Microsoft 365 Education, serta kompilasi ulasan publik dan lem